News, Players

Kebebasan Zinedine Zidane Kunci Kesuksesan Real Madrid

Bahkan presiden Real Madrid Florentino Perez tidak bisa mengganggu kinerja legenda asal Prancis ini di Santiago Bernabeu.

Saat masih aktif bermain, Zinedine Zidane adalah maesto dan legenda lapangan hijau, tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang bisa mencabut bahkan tidak juga berhak untuk sekadar mempertanyakan status tersebut.

Tetapi bagaimana dengan urusan melatih tim? Jujur saja, bahkan penulis sulit membayangkan bagaimana nasib Real Madrid bersama Zidane yang ditunjuk oleh Florentino Perez untuk meggantikan Rafael Benitez pada musim dingin 2016.

Bagaimana tidak, Zidane belum memiliki persyaratan kasat mata yang dibutuhkan untuk membesut tim sebesar Real Madrid kecuali status legendanya di Bernabeu. Zidane tidak punya rekam jejak kepelatihan yang bisa membuat para suporter nyaman melihatnya bekerja menukangi tim.

Akan tetapi setelah 1,5 tahun berlalu, arsitek asal Prancis ini telah menggondol lima gelar juara prestisius yang hanya bisa dibayangkan oleh para pendahulunya.

Dua gelar Liga Champions dan satu gelar La Liga sudah dipersembahkan Zidane melengkapi koleksi trofi Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub.

Lalu apa keunggulan Zidane dari sederet pelatih kelas dunia lainnya yang pernah menukangi Real Madrid seperti Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti?

Jawabnya adalah kebebasan dalam bekerja dan bagaimana semua orang menaruh kepercayaan dan dukungan tidak terkecuali dari dua tokoh utama di Santiago Bernabeu; Cristiano Ronaldo dan Florentino Perez.

Rasanya sudah lama sekali kita tidak lagi mendengar komentar usil Perez yang justru tidak jarang jadi bumerang pada tim. Perez juga tidak berkutik ketika Zidane mengabaikan sejumlah pemain top yang disodorkan pada musim panas tahun lalu. Ketika itu Zidane dengan percaya diri menegaskan sudah memiliki pasukan cukup dengan kekuatan yang bisa menghadirkan prestasi ke ibu kota Spanyol.

Tanpa rintangan, dengan leluasa kemudian Zidane menerapkan kebijakan rotasi. Dia menurunkan pemain sesuka hati sesuai dengan kebutuhan tim dengan pertimbangan yang cermat. Tidak juga mengherankan ketika pada akhirnya, Zidane tak perlu menurunkan Ronaldo di setiap pekan pertandingan yang justru berujung pada gemilangnya performa sang superstar terutama di periode krusial April-Mei.

Pada periode tersebut, Ronaldo tidak banyak dimainkan di La Liga namun dia merajalela di kompetisi Eropa dengan menjadikan gawang tim kelas berat seperti Bayern Munich, Atletico Madrid hingga Juventus di final Liga Champions layaknya taman bermain.

Istimewanya, rotasi yang dilakukan Zidane tidak berdampak pada kebutuhan tim dalam mengumpulkan poin menuju tangga juara La Liga. Dengan mental juara yang ditularkan Zidane pada pasukannya, mereka tidak henti memetik kemenangan meski di bawah tekanan hebat dari Barcelona.

Selain dengan kualitas yang terus terjaga, rotasi El Real berhasil membuat para youngster dan pemain lapis kedua termotivasi untuk meningkatkan kualitas dan unjuk kemampuan, mereka seperti tidak mau kalah bekerja keras untuk kebaikan tim, demi tujuan yang sama.

Ketika atmosfer positif dengan sempurna tercipta, maka tidak heran jika pemain seperti Nacho, Matteo Kovacic, Marco Asensio, Isco, Lucas Vazquez, Alvaro Morata bahkan James Rodriguez sekalipun selalu mengerahkan kemampuan terbaik ketika mendapat kepercayaan dari Zidane.

Jelas, pengaruh ZIdane pada skuat Real Madrid begitu kuat hingga sulit bagi siapapun untuk membantah segala rencana yang disusun, hebatnya sejauh ini Zidane selalu berhasil menjawab tantangan.

Ketika Barcelona masih menatap nanar bagaimana Real Madrid sanggup berjaya tiga kali di Eropa dari empat musim terakhir, Real Madrid dengan manajer top berlabel legenda yang bekerja tanpa intevensi dari pihak manapun siap memetik gelar demi gelar di masa depan karena tidak ada tanda-tanda laju mereka bersama Zidane bakal berhenti dalam waktu dekat.

Share