Euro 2016

Wales tumbangkan Belgia!

Cerita di balik sensasi Wales lolos ke semi-final Euro 2016 dengan menyingkirkan Belgia.

Kalian menyaksikan ini, Inggris?

Ashley Williams berlari sekuat tenaga. Kapten timnas Wales ini baru saja menyarangkan bola ke dalam gawang Thibaut Courtois. Dari situasi tendangan penjuru yang sudah dilatih, Williams berdiri bebas tanpa terkawal untuk menyongsong umpan Aaron Ramsey. Tanpa sungkan Williams melampiaskan kegembiraannya dengan seluruh anggota tim di bangku cadangan.

September tahun lalu, pemandangan identik terjadi di Nicosia. Usai mencetak gol menentukan ke gawang tuan rumah Siprus, alih-alih merayakan gol menentukan dalam kualifikasi Euro 2016 itu seorang diri, Gareth Bale berlari ke pinggir lapangan dan berangkulan dengan seluruh anggota tim — baik staf kepelatihan maupun para pemain.

Gol Williams mengawali penampilan gemilang Wales saat mengalahkan Belgia 3-1 pada perempat-final Euro 2016, Jumat (1/7) malam. Pada debut partisipasi mereka di putaran final Euro, The Dragons berhasil melangkah ke semi-final! Pencapaian yang mungkin tak pernah dibayangkan dalam mimpi terliar Williams, Bale, maupun manajer Chris Coleman.

Sudah lama Sang Naga tertidur. Wales mencicipi penampilan pertama di turnamen besar sepakbola pada Piala Dunia 1958. Bahkan sebenarnya partisipasi di Swedia saat itu sedikit berbau kemujuran. Di babak kualifikasi, negara-negara Timur Tengah, termasuk Indonesia, menolak menghadapi Israel sehingga mereka dapat melenggang lolos ke Piala Dunia tanpa perlu bertanding sama sekali. FIFA tidak berkenan. Wales terpilih menjadi lawan Israel pada play-off antarbenua dan The Dragons sukses memenangkannya.

Sampai sebelum Euro tahun ini, itu menjadi satu-satunya pengalaman Sang Naga di pentas dunia.

Ashley Williams, bek kelahiran Inggris yang dipercaya menjadi kapten Wales.

Kali ini, kehadiran Wales di Prancis bukanlah dari hasil mengemis  kemujuran. Apa rahasia Wales? Tentu saja, sukses Wales tidak seperti sulap kelinci di dalam topi. Untuk memulainya, nama eks manajer timnas ini wajib disebutkan.

“Saya akan bersulang untuk teman baik saya, Gary Speed, yang tak lagi bersama kita, tapi selalu ada di dalam pikiran saya — pikiran kita semua,” ujar Coleman saat Wales memastikan tempat di Prancis, akhir tahun lalu.

“Di surga Speed pasti sedang tersenyum.”

Mendiang Gary Speed menangani Wales pada 2010 dan tutup usia setahun berselang karena bunuh diri. Ditunjuk sebagai manajer pengganti, Coleman melanjutkan visi Speed dalam membangkitkan lagi sepakbola Wales. Di era Speed, manajemen tim direvolusi selayaknya pengelolaan klub top Liga Primer Inggris. Sebelumnya, penanganan tim terkesan seadanya dan mengesampingkan kenyamanan para pemain. Praktis, pemain tidak tampil sepenuh hati.

Di bawah manajemen baru, hal itu diubah. Saat bertandang, misalnya, akomodasi dipilih dengan cermat. Mulai dari kualitas tempat penginapan hingga memperhitungkan moda transportasi dari dan ke bandara agar para pemain tidak keletihan. Tim juga ditunjang dengan staf pelatih spesialis di berbagai bidang, mulai dari medis hingga psikolog. Jajaran staf pelatih Wales berasal dari berbagai klub Liga Primer Inggris.

Head of Performance Ryland Morgans memiliki jabatan serupa di Liverpool, sedangkan masseur Chris Senior berasal dari Arsenal. Dokter Adam Owen pernah bertugas di Glasgow Celtic dan psikolog Ian Mitchell bekerja di Swansea City. Hebatnya, mereka melakukan pertemuan berkala setiap enam pekan untuk membahas program timnas meski anggaran gaji tidaklah besar.

Wales menerapkan metode kepelatihan yang modern. Kondisi medis para pemain selalu direkam selama sesi latihan berlangsung. Tak cukup sampai di situ, staf pelatih Wales bersinergi dengan mengirimkan data latihan tersebut ke klub asal sang pemain. Tujuannya, agar kondisi sang pemain memiliki kesinambungan program antara klub dan timnas. Langkah ini dianggap berhasil menengahi konflik “club vs country” yang lazim terjadi pada jeda internasional.

Kebijakan ini membuahkan hasil positif. Ketika Bale mengalami masalah fisik untuk menghadapi Belgia, yang juga dijumpai di babak kualifikasi November lalu, tim kepelatihan Wales berkomunikasi intens dengan Real Madrid sehingga sang pemain tetap fit dan bisa dimainkan. Bahkan, sejak laga kualifikasi melawan Isarel The Dragons tidak pernah memanggil pemain pengganti karena masalah cedera.

A picture taken on March 26, 2011 shows manager of Wales Gary Speed awaiting kick off against England during a Euro 2012 Group G qualifying football match at the Millenium Stadium, Cardiff, Wales. Speed was found dead at his home on November 27, 2011, the Football Association of Wales (FAW) announced - he was 42. The FAW has told the BBC it appears Speed killed himself.    AFP PHOTO/ IAN KINGTON (Photo credit should read IAN KINGTON/AFP/Getty Images)

Mendiang Gary Speed mengawali revolusi manajemen timnas Wales.

Wales menyudahi babak pertama dengan skor 1-1. Mereka kebobolan pada menit ke-13 akibat tendangan jarak jauh Radja Nainggolan. Saat terjadinya gol, pertahanan Wales tampil lebih fokus menjaga area kotak penalti dan membiarkan Nainggolan leluasa melepaskan tembakan keras. Praktis, itu satu-satunya kesalahan fatal Wales dalam pertandingan.

Setelah unggul, Belgia malah tampak teledor dengan membiarkan terlalu banyak ruang di lini tengah. Akibatnya, gol balasan Williams merupakan balasan setimpal. Wales pun kian percaya diri setelahnya dan di awal babak kedua mereka sukses mengungguli lawan.

Pada menit ke-55, Hal Robson-Kanu dengan cerdik melakukan putaran yang mengecoh tiga pemain belakang Belgia sekaligus. Tanpa kesulitan, striker kidal binaan Arsenal itu menaklukkan Courtois dengan tendangan terukur. Robson-Kanu terjun di turnamen ini dengan status tanpa klub setelah kontraknya bersama Reading tak diperpanjang.

Bayangkan, striker klub kasta kedua Inggris bisa melakukan finishing setenang itu. Anda mesti memiliki kepercayaan diri tingkat tinggi untuk melakukannya di sepenting laga delapan besar Euro. Namun, itu seperti bukan beban yang terlalu besar bagi Robson-Kanu. Lalu, seperti Williams, dia berlari merayakan gol di pinggir lapangan bersama seluruh penggawa tim.

 

Share